Di halaman ini
- Di mana letak Tana Beru, dan mengapa ejaannya berbeda?
- Apa yang tercatat tentang Tana Beru oleh UNESCO?
- Apa yang membedakan Tana Beru dari lokasi lain di Bonto Bahari?
- Kapal seperti apa yang dibuat di Tana Beru?
- Bagaimana kapal dikerjakan di tepi pantai?
- Bagaimana kayu sampai ke lokasi kerja?
- Siapa saja yang bekerja di sini, dan bagaimana jenjangnya?
- Apa yang bisa dilihat pengunjung di Tana Beru?
- Berapa kapal yang tercatat sedang dikerjakan di Tana Beru?
- Mengapa UNESCO menyebut Batu Licin di luar Bulukumba?
- Benarkah kapal pinisi dibuat tanpa paku?
- Apa jawaban singkat untuk pertanyaan seputar Tana Beru?
- Harga terpublikasi apa saja yang kami cek?
- Dari mana fakta di halaman ini berasal?
- Bagaimana cara menghubungi desk?
Oleh Kapal Pinisi Bulukumba Editorial Desk
Angka bersumber: setiap angka di tabel membawa sumber dan bulan pengecekan. Angka dari berita lama bukan harga hari ini, dan isi halaman ini bukan nasihat hukum.

Tana Beru menonjol karena tiga catatan bertemu di satu tempat: UNESCO menyebutnya sebagai salah satu pusat pembuatan kapal saat ini, kapal dikerjakan di tepi pantai Kecamatan Bonto Bahari, dan Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat ukurannya beragam, dari kecil sampai besar, untuk wisata maupun dagang. Portofolio kapal perlu diminta langsung dari pihak yang menawarkan pekerjaan.
Bila Anda masih menimbang antara Tana Beru dan Ara, Bira, atau Tana Lemo, peta kapal pinisi Bulukumba memisahkan keterangan tiap lokasi per sumber. Halaman ini hanya membahas Tana Beru: letaknya, kapal yang tercatat di sana, jenjang kerjanya, dan hal yang belum bisa dipastikan pengunjung.
Di mana letak Tana Beru, dan mengapa ejaannya berbeda?
Tana Beru berada di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Wikipedia mencatat kecamatan ini memuat empat desa (Ara, Bira, Darubiah, Lembanna) dan empat kelurahan (Benjala, Sapo Lohe, Tanah Beru, Tanah Lemo). Daftar administrasi itu menulis "Tanah Beru", sedangkan UNESCO menulis "Tana Beru". Sumber memakai kedua ejaan untuk tempat yang sama, jadi saat mencari di peta, berita, atau dokumen, cobalah keduanya. Nama kecamatannya pun kadang ditulis Bonto Bahari, kadang Bontobahari.
Patokan jarak yang tersedia datang dari dua sumber dengan satuan berbeda. Kami menuliskannya terpisah dan tidak mengubah menit menjadi kilometer.
| Patokan | Jarak atau waktu | Sumber |
|---|---|---|
| Kota Makassar | Sekitar 176 km | Disparbud Kepulauan Selayar, 2014 |
| Kota Bulukumba | Sekitar 23 km | Disparbud Kepulauan Selayar, 2014 |
| Pelabuhan Bira | Sekitar 10 km sebelum pelabuhan | Disparbud Kepulauan Selayar, 2014 |
| Gerbang kawasan Pantai Bira | Sekitar 20 menit berkendara | TRAC Astra, situs niaga perjalanan |
Angka Disparbud berasal dari tulisan 2014, jadi cocokkan lagi dengan peta sebelum berangkat. Tulisan yang sama menyebut perjalanan dari Kota Bulukumba bisa memakai mobil pribadi atau angkutan umum. Pilihan dari arah Makassar diuraikan di rute Makassar ke Tana Beru.
Dari sisi peta, patokan Pelabuhan Bira paling berguna bagi Anda yang datang dari arah kota, karena Tana Beru dilewati sebelum tiba di pelabuhan. Bila rencana Anda dimulai dari kawasan pantai, patokan gerbang Pantai Bira lebih mudah dipakai.
Apa yang tercatat tentang Tana Beru oleh UNESCO?
Halaman UNESCO tentang seni pembuatan kapal Sulawesi Selatan memberi tiga nama sebagai pusat pembuatan kapal masa kini, dan Tana Beru disebut lebih dulu, diikuti Bira serta Batu Licin. Bagi pembaca yang menilai sebuah tempat, kalimat ini berguna sebagai penanda lokasi. Kalimat itu tidak menilai mutu pembuat tertentu dan tidak merinci siapa yang bekerja di sana. Batas arti pencatatan tersebut dibahas di apakah UNESCO mengesahkan kapal tertentu.
Pernyataan yang sama memberi angka ekonomi: sekitar 70 persen warga pusat-pusat itu bergantung pada kerja yang berkaitan dengan pembuatan kapal dan navigasi. Angka tersebut milik pernyataan UNESCO 2017, bukan data BPS, dan merujuk pada pusat-pusat itu secara bersama. Karena itu kami tidak membacanya sebagai persentase warga Tana Beru saja.
Kalimat UNESCO tadi tidak memakai nama Ara, sedangkan seorang pengrajin dalam berita detikcom 2023 menempatkan Desa Ara bersama Tanah Beru dan Bira sebagai tempat berkumpulnya kelompok pengrajin Bontobahari. Dua keterangan ini kami biarkan berdampingan. Uraian per lokasi ada di perbedaan Tana Beru, Ara, dan Bira.
Apa yang membedakan Tana Beru dari lokasi lain di Bonto Bahari?
Perbedaan yang bisa dipegang ada pada catatan tentang tempatnya, bukan pada pujian tentang tangan siapa yang lebih halus. Tiga catatan berikut bisa Anda periksa sendiri.
- Disebut langsung oleh UNESCO. Namanya muncul dalam kalimat tentang pusat pembuatan kapal saat ini.
- Ragam kapal yang lebar. Jadesta Kementerian Pariwisata menggambarkan kapal di Tanah Beru dari kecil sampai besar, untuk wisata maupun dagang. Jadesta memakai gambaran yang sama untuk Tanah Lemo, jadi ragam ukuran bukan ciri yang hanya dimiliki Tana Beru.
- Asal pesanan. Keterangan foto ANTARA, Oktober 2023 menyebut kapal dipesan dari dalam dan luar negeri.
Bagi calon pemesan, daftar ini lebih berguna sebagai titik awal pertanyaan daripada alasan untuk memilih. Kemasyhuran sebuah kampung tidak menjawab apakah pembuat di depan Anda pernah mengerjakan kapal sejenis, dengan ukuran sejenis, dan menyelesaikannya sesuai kesepakatan.
Kapal seperti apa yang dibuat di Tana Beru?
Kedua sumber tadi sejalan soal fungsi: dagang dan wisata. Keduanya tidak memberi batas ukuran dalam meter, dan kata "besar" pada profil Jadesta tidak diberi angka. Contoh dengan ukuran yang tertulis dikumpulkan di ukuran kapal pinisi buatan Bulukumba.
Dua angka yang pernah diberitakan untuk kapal Tana Beru tampil di tabel harga halaman ini. Keduanya datang dari pihak ketiga dan bertahun-tahun lalu, jadi bacalah sebagai jejak berita, bukan harga yang bisa ditagih hari ini. Baris dari tahun dan ukuran lain ada di biaya kapal pinisi buatan Bulukumba.
Catatan ANTARA membuktikan bahwa pemesanan terjadi. Catatan itu tidak mengatakan seberapa jauh desain bisa disesuaikan, dan tidak menyebut pembuat mana yang menerima pekerjaan saat ini. Jadi pertanyaan apakah kapal rancangan sendiri bisa dikerjakan di sini baru terjawab per proyek. Langkahnya ada di cara memesan kapal pinisi di Bulukumba.
Di luar kapal sungguhan, Tanah Beru juga menghasilkan kerajinan miniatur. Detikcom memberitakan seorang perajin yang memakai jati lokal dan butuh seminggu sampai sebulan untuk mengerjakannya. Bila tujuan Anda sebatas kenang-kenangan, baca miniatur kapal pinisi Tana Beru.
Bagaimana kapal dikerjakan di tepi pantai?
Jadesta menggambarkan posisi kerjanya: kapal berdiri di bibir pantai dengan haluan mengarah ke laut, dan begitu rampung, ratusan orang menariknya ke air. Bila gambaran Jadesta itu berlaku di sini, pantai sekaligus menjadi tempat kerja dan jalur peluncuran. Urutan kerjanya disampaikan warga Tanah Beru kepada Republika pada 2013:
- Lunas dipasang lebih dulu, disertai ritual.
- Lambung dibentuk.
- Tulang bagian dalam dikerjakan setelah lambung.
- Dek dan kamar dikerjakan terakhir.
Urutan ini menjelaskan mengapa satu kapal bisa tampak sangat berbeda antara dua kunjungan. Pengunjung yang datang saat lambung masih terbuka melihat hal lain dari pengunjung yang datang saat kamar sudah dipasang. Pemesan bisa memakai urutan yang sama untuk menyepakati kapan pemeriksaan dilakukan, karena bagian yang sudah tertutup dek lebih sulit dilihat sesudahnya. Republika mengutip satu suara dari satu masa, sehingga pembuat lain bisa saja bekerja dengan urutan berbeda. Tanyakan urutan yang dipakai pada proyek Anda.
Bagaimana kayu sampai ke lokasi kerja?
Yang tercatat baru sebagian. Detikcom pada 2023 menyebut kayu besi diambil dari Kendari dan Buton. Berita itu berhenti pada nama daerah, tanpa jalur angkut, pemasok, atau dokumen asal-usul.
Bila Anda memesan kapal, ajukan tiga pertanyaan praktis: jenis kayu apa dipakai pada bagian apa, dari daerah mana asalnya, dan dokumen apa yang menyertainya. Jenis kayu lain dan persoalan pasokannya dibahas di asal kayu kapal pinisi Bulukumba.
Siapa saja yang bekerja di sini, dan bagaimana jenjangnya?
Mongabay pada 2017 mencatat urutan naik kelas yang lazim di kampung ini: tukang masak dulu, tukang bor kemudian, baru tukang, walau kini urutan itu tidak selalu diikuti. Urutan itu memperlihatkan seseorang bisa mulai dari dapur sebelum dipercaya memegang pekerjaan kayu.
Soal jumlah, dalam berita detikcom 2023 tentang awal mula Bulukumba seorang pengrajin menyebut angka 25 pengrajin untuk Tanah Beru saja, tanpa Ara dan Bira. Ini pernyataan pelaku, bukan data resmi, dan berita itu tidak menjelaskan siapa yang dihitung sebagai pengrajin.
Halaman ini tidak memuat nama pembuat. Peran para pelaku dijelaskan di siapa pembuat kapal pinisi di Bulukumba. Bila Anda sedang menilai seorang pembuat, mintalah langsung kepadanya:
- Daftar kapal yang pernah dikerjakan, dengan tahun, ukuran, dan fungsinya.
- Kapal mana yang masih bisa Anda lihat, dan di mana.
- Bagian mana yang dikerjakan sendiri, dan bagian mana yang dibuat pihak lain.
- Siapa yang memimpin pekerjaan di lokasi selama proyek berjalan.
Empat butir ini berlaku juga bagi kami: permintaan lewat desk dapat berujung pada kontrak dengan perusahaan kami, jadi ajukan pertanyaan yang sama pada penawaran kami.
Apa yang bisa dilihat pengunjung di Tana Beru?
Apa yang tampak bergantung pada ada tidaknya kapal yang sedang dikerjakan saat Anda datang. Mongabay mencatat suasana Tana Beru agak sepi pada satu sore di awal April 2017 setelah pekerjaan selesai. Itu pengamatan satu hari, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa ini tempat kerja, bukan pertunjukan terjadwal.
Biaya masuk, jam kunjungan, izin, aturan foto, dan keselamatan pengunjung kami bahas sekali saja di panduan kunjungan yang ditaut di akhir bagian ini. Khusus untuk Tana Beru, buku Poltekpar Makassar menyebut Museum Pinisi sebagai rencana pemerintah daerah, jadi jangan menjadikannya tujuan sebelum memastikan di lokasi.
Sikap paling aman adalah bersikap seperti tamu di tempat kerja: sapa orang yang sedang bekerja, tanyakan dulu sebelum mendekat atau memotret, dan jauhi area di bawah kapal atau di dekat alat yang sedang dipakai, terutama bila membawa anak. Saran ini datang dari kami sebagai editor, bukan dari aturan setempat. Persiapan lebih lengkap ada di berkunjung ke lokasi pembuatan kapal pinisi.
Berapa kapal yang tercatat sedang dikerjakan di Tana Beru?
Mongabay mencatat 36 kapal kayu berjejer dalam tahap pembangunan di sepanjang jalan Desa Tana Beru pada April 2024, dan 32 di antaranya berbobot tak kurang dari 200 GT. Pesanannya, menurut laporan yang sama, datang dari pengusaha kapal ikan sampai kapal wisata. Laporan itu juga menyebut satu kapal pesiar pesanan warga asing dengan kontrak 10 bulan, yang saat itu sudah dikerjakan enam bulan.
Angka ini potret satu bulan dari satu liputan. Ia tidak menyebut jumlah kapal per tahun atau jumlah pembuat, dan kami belum menemukan angka resmi yang lebih baru. Seorang pekerja kepada Mongabay pada 2013 menyebut sekitar 20 kapal dipesan dalam setahun, tetapi pesanan setahun dan kapal yang sedang berdiri adalah dua ukuran yang berbeda, jadi keduanya tidak kami bandingkan. Bagi pemesan, potret 2024 memberi satu pertanyaan konkret: berapa kapal lain yang sedang ditangani tim yang sama pada tanggal Anda ingin mulai.
Mengapa UNESCO menyebut Batu Licin di luar Bulukumba?
Penjelasan paling jelas yang kami temukan datang dari Mongabay 2024. Ketika ulin mulai didatangkan dari Kalimantan, pelayaran kayu dinilai berisiko, sehingga para juragan kapal membawa panrita ke Batu Licin, Kalimantan Selatan, agar dekat dengan sumber kayu. Di sana ulin diolah menjadi lunas dan kayu bayam menjadi kulit lambung. Pada pertengahan 2000-an pengolahan kedua kayu itu makin sulit, beberapa bengkel ditinggalkan, dan para panrita kembali ke Bulukumba.
UNESCO pada 2017 tetap menulis Batu Licin bersama Tana Beru dan Bira, dan kajian material lambung di jurnal JPE mengulang ketiga nama itu. Mongabay menulis beberapa bengkel, bukan semua, jadi kami tidak membacanya sebagai pertentangan. Kegiatan di Batu Licin hari ini belum bisa kami pastikan. Bagi pemesan, kisah ini menunjukkan bahwa tukang asal Bulukumba bisa saja bekerja di tempat lain. Lokasi kerja ditulis di penawaran, dan baris itu lebih menentukan daripada asal-usul tukangnya.
Benarkah kapal pinisi dibuat tanpa paku?
Belum bisa dijawab ya untuk semua kapal. Jurnal Sosioreligius UIN Alauddin menulis seluruh bagian kapal dari kayu dan dirangkai tanpa paku, lalu mencatat sambungan antarpapan diperkuat pasok buku, lebih kurang 3.000 batang untuk satu perahu pinisi. Tulisan warga di Good News from Indonesia menyebut pasak kayu berbentuk silinder sebagai pengunci. Kedua tulisan itu berbicara tentang pinisi secara umum. Keduanya tidak memeriksa kapal 200 GT bermesin seperti yang dicatat Mongabay, dan kami belum menemukan sumber yang mengukur pemakaian baut atau paku pada kapal sebesar itu.
Tahap yang menyertai sambungan juga tercatat. Disparbud Selayar menulis lunas dan papan dipasang, lalu didempul, baru tiang layar dipasang. Kajian material di jurnal JPE memberi urutan yang sejalan dengan warga kepada Republika: lunas, papan kulit, kemudian rangka atau gading. Bila sambungan kayu penting bagi Anda, tulis jenis pengikat per bagian di spesifikasi: pasak, baut, atau paku. Kata tanpa paku dalam materi penjualan belum berarti apa-apa sebelum ia menyebut bagian kapal yang dimaksud.
Apa jawaban singkat untuk pertanyaan seputar Tana Beru?
Apakah pembuat kapal di Tana Beru menerima pesanan?
Ya, kapal Tana Beru tercatat dipesan dari dalam dan luar negeri menurut keterangan foto ANTARA Oktober 2023. Catatan itu tidak merinci tingkat penyesuaian desain atau siapa yang menerima pekerjaan saat ini, sehingga kesediaan tiap pembuat perlu ditanyakan langsung.
Apakah ada portofolio kapal yang pernah dibuat di Tana Beru?
Situs ini tidak memuatnya, karena tidak ada daftar publik yang bisa diperiksa. Portofolio perlu diminta langsung dari pihak yang menawarkan pekerjaan.
Apakah Tana Beru sama dengan Tanah Beru?
Ya. Sumber memakai kedua ejaan untuk tempat yang sama. Daftar kelurahan di Wikipedia menulis Tanah Beru, sedangkan UNESCO menulis Tana Beru.
Apakah ada biaya masuk untuk melihat pembuatan kapal di Tana Beru?
Tidak ada tarif resmi ataupun pernyataan bebas biaya di sumber kami untuk lokasi ini. Tanyakan kepada warga atau pihak yang sedang bekerja saat Anda tiba.
Apakah Museum Pinisi di Tanah Beru sudah berdiri?
Statusnya baru rencana pemerintah daerah menurut buku Poltekpar Makassar, satu-satunya pegangan kami.
Harga terpublikasi apa saja yang kami cek?
Angka yang diberitakan dan tarif yang dipublikasikan pihak ketiga, masing-masing dengan sumber dan bulan pengecekan. Angka dari berita lama bukan harga hari ini dan bukan penawaran kami.
| Item | Angka terpublikasi | Sumber | Dicek |
|---|---|---|---|
| Kapal pinisi Tana Beru, kisaran menurut keterangan foto ANTARA, Oktober 2023 (angka diberitakan, tergantung ukuran dan fasilitas) | Rp2 miliar sampai puluhan miliar | antarafoto.com | Nov 2026 |
| Kapal panjang 15 m, tinggi 2,5 m, Republika, Mei 2013 (angka diberitakan) | Bisa mencapai Rp1,2 miliar | republika.co.id | Nov 2026 |
Dari mana fakta di halaman ini berasal?
- UNESCO: Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi
- Wikipedia: Kabupaten Bulukumba
- Disparbud Kepulauan Selayar: Menyinggahi pembuat perahu phinisi di Bulukumba (2014)
- TRAC Astra: Tanjung Bira
- Jadesta Kementerian Pariwisata: Pembuatan perahu pinisi
- ANTARA Foto: Pembuatan kapal pinisi di Bulukumba (2023)
- detikcom: Awal mula Bulukumba jadi pusat pembuatan kapal pinisi (2023)
- detikcom: Harga kapal pinisi Bulukumba (2023)
- detikcom: Miniatur kapal pinisi Tanah Beru (2023)
- Republika: Kapal pinisi lahir di Tanah Beru (2013)
- Mongabay: Pembuat perahu pinisi di Tana Beru (2017)
- Buku Poltekpar Makassar: Ekosistem Wisata Budaya Perahu Pinisi
- Mongabay Indonesia, Juni 2024: pasokan bahan baku kapal kayu Sulawesi
- Mongabay Indonesia, Juni 2013: perahu phinisi dan hutan Kajang
- Jurnal JPE, portal Unhas: kajian kebutuhan material lambung kapal
- Jurnal Sosioreligius UIN Alauddin: ritual dalam proses pembuatan perahu pinisi
- Good News from Indonesia, tulisan warga, September 2026: sejarah kapal pinisi Bulukumba
Bagaimana cara menghubungi desk?
Punya pertanyaan tentang Tana Beru atau rencana kapal? Tulis ke desk lewat WhatsApp 6281139414563 atau surel bd@juaraholding.com.
Kirim kebutuhan, ukuran, dan waktu Anda. Desk menjawab tertulis.
Minta penawaran lewat WhatsApp bd@juaraholding.com